Pemimpin yang sederhana
| (foto by: mike martin 2003) |
Saya
pernah menjadi ketua kelas di salah satu sekolah, disitu saya belajar menjadi
pemimpin. Didalam kepemimpinan saya selama satu tahun, bayak kritikan dan
masukan yang saya terima dari teman-teman sekelas saya. Banyak hal yang mereka
tidak suka dari saya. Mungkin karena lambat memberitahukan jadwal menyapu, dan
baca doa kepada teman-teman. kadang saya tidak masuk sekolah, kadangkala saya
bolos. Hal seperti ini membuat teman-teman marah kepada saya, Bahkan mereka
lapor kepada wali kelas untuk diberi hukuman kepada saya. Wali kelas
menghormati saya sebagai pimpinan kelas, apapun konsekwensinya beliau
menghargai setiap keputusan yang saya ambil. Tetapi yang melanggar aturan
sekolah seperti bolos dan alpa, adalah kewajiban wali kelas untuk harus
ditegur. Saya menghargai wali kelas, walau beliau menegus saya dengan nada
keras dan memukul dengan sepotong kayu.
Saya menceritrakan pengalaman
sederhana diatas ini bukan karena sudah Menjadi pemimpin dan siap memimpin. Tetapi
seorang pemimpin harus terlahir dengan sederhana, mampu menerima kritikan dalam
bentuk apapun. Memiliki jiwa membangun karakter manusia dengan cara toleransi
dan menjauhkan egoisme. Namun dewasa ini terdidik dengan jalannya zaman yang
haus akan ilmu, pengetahuan dan teknologi, membuat para khalayak merasa jenuh, bosan
dan tidak tertarik. Tips mudah dan sederhana untuk menjauhkan Itu adalah
gampang sebenarnya. Mengenalilah diri Anda, siapakah yang Anda hadapi? bagimanakah langkah yang harus diambil untuk menghadapi
mereka? Semua ada pada seorang pucuk
pimpinan.
Waena, 08/02/2021
Coretan by:
Arius Tibul, S.I.Kom